Pages

Monday, 20 June 2016

Hasil UKK Azzam

Dua undangan pengambilan rapor dari sekolah Azzam dan Saisha menyebutkan jam yang sama. Ini berarti bunda harus atur benar-benar alokasi waktu pada hari Jumat (17/6) itu agar bunda dapat mengambil rapor di dua lokasi dalam waktu 2 jam saja, tanpa mengganggu agenda kerja bunda di kantor. Diputuskan, ambil rapor Sasha terlebih dahulu, baru ke sekolah Azzam. Rupanya bunda salah perhitungan. Antrian pengambilan rapor di kelas Sasha masih panjang, terpaksa harus menunggu hingga satu jam lamanya sampai giliran bunda datang. Bisa ditebak, acara ambil rapor ke sekolah Azzam nyaris terlambat.

Sampai di SDII Al Abidin, suasana sudah lumayan lengang. Maklum hari jumat, hari yang pendek, karena semua bersiap untuk sholat Jumat. Beruntung Ustad Ary, guru Azzam, masih terlihat melayani satu wali murid terakhir yang ada di kelas Azzam. Dengan muka yang masih ngos-ngosan, segera duduk manis menunggu giliran menghadap wali kelas. Jam sudah menunjuk angka 11.15.

Senyum Manis Saisha

Saisah dan Amira di belakang panggung
Tak terasa, sudah tiba waktunya bagi si kedua Saisha untuk naik kelas ke TK B. Berbeda dengan kakaknya, Azzam, bunda tak terlalu risau dengan proses pembelajaran Sasha selama ini. Bisa dibilang bunda lepas begitu saja, tanpa harus menyimpan rasa was-was dan khawatir. Dan memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Sasha lebih cepat belajar, lebih mandiri dan lebih bisa diandalkan. Kecuali satu hal yang masih menjadi catatan bunda guru yaitu soal kemampuannya berekspresi.

Dari semester 1 hingga semester akhir ini, bunda guru secara konsisten berpesan untuk terus melatih kemampuan Sasha berekspresi. Menurut bunda guru, Sasha punya potensi yang sangat besar, namun belum sepenuhnya tereksplorasi, utamanya saat harus berinteraksi dengan banyak orang sekaligus. Saisha belum mau dengan sukarela bercerita tanpa ditanya terlebih dahulu. Belum mau protes saat ada kawannya yang “menyerang”. Cenderung diam. Hal ini sangat berbeda dengan keseharian Sasha di rumah. Di rumah, sasha jadi penguasa. Si kakak dan adik dipaksa tunduk dengan aturan mainnya. Sasha yang mendominasi.

Monday, 13 June 2016

Kejutan Besar Si Sholih Azzam

Suatu hari Jumat yang super sibuk. Saking padatnya agenda Jumat itu, sampai-sampai tak sempat melirik handphone untuk diubek-ubek, sekedar check WA, BB atau FB. Ffiiuuh…intinya, hati dan pikiran sumpek betul hari itu. Astaghfirulloooh. Cuma bisa minta bantuan Alloh untuk bisa melalui hari itu dengan tetap menyungging senyum manis di wajah.

Alhamdulillah, Alloh menjawab kegalauanku. Menjelang dzuhur, kusempatkan untuk membuka pesan di Hp yang mulai menumpuk, karna belum sempat kubuka. Beberapa pesan mulai menggunung juga di group WA kelas si sulung Azzam.  Obrolan di group kelas 1 Ismail ini biasanya membahas tentang hal-hal penting untuk diketahui wali murid, karena maklum saja, anak-anak kelas 1 masih belum bisa banyak diharapkan dapat melakukan semua kegiatan secara mandiri sepenuhnya, jadi masih harus ada supporting penuh dari wali kelas dan wali murid. Nha, WA menjadi sarana yang paling mudah untuk menjembatani komunikasi guru dan orang tua siswa.

Kali ini, informasi yang disampaikan Ustad Ari tak hanya penting, namun amat sangat betul-betul penting, utamanya untuk saya. Ustad mengabarkan Azzam meraih juara 3 untuk cabang lomba Sholat di sekolah. Waaa….dari suasana hati yang sumpek, berubah seketika menjadi senang tiada terkira. Senang sekaligus terkejut bukan kepalang. Kapan lombanya? Gimana ceritanya? sama sekali tak punya petunjuk soal itu sebelumnya. Azzam tak pernah bercerita apapun mengenai lomba itu. Lalu, ujug-ujug mendapat kiriman poto Azzam dengan membawa hadiah untuk juara  3 lomba sholat, rasanya benar-benar wwaarrbiassaah.Tak sabar rasanya ingin segera pulang untuk mengintrogasi Azzam.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Azzam tetap dengan ekspresi datarnya saat menjawab sapaan bunda setibanya bunda dirumah. Meskipun begitu, bunda tetap membombardir Azzam dengan serentetan pertanyaan. Azzam lombanya kapan? Ceritanya gimana kok bisa ikut lomba? Pesertanya siapa saja? di mana lombanya? Yang menang siapa aja? Selain lomba sholat, ada lomba apa lagi?

Untungnya, meskipun flat, Azzam tetap mau menjawab pertanyaan bunda dengan komplit. Hingga bunda menjadi tahu jalan cerita selengkapnya. Rupanya, lomba diadakan dalam rangka class meeting usai ujian akhir semester kemarin. Berhubung bertepatan dengan bulan Ramadan, maka cabang lombanyapun berupa lomba-lomba yang Islami. Ada lomba sholat, tilawah dan hafalan. Masing-masing kelas pararel (7 kelas) mengirimkan 3 wakilnya untuk bertanding di masing-masing cabang lomba. Kebetulan Azzam  beserta dua teman putrinya dipilih untuk mewakili kelas 1 Ismail. Teknis lombanya dibagi menjadi 3 level. Siswa kelas 1 dan 2 berlaga di level 1, kelas 3 dan 4 di level 2, dan kelas 5 dan 6 di level 3. So, selain siswa kelas 1, kakak-kakak kelas 2 juga menjadi lawan Azzam di pertandingan tersebut.

Tambah bangga bunda, setelah mendengar cerita Azzam. Azzam menjadi juara 3, setelah dua kakak kelas 2 lainnya yang meraih juara 1 dan 2. Kereeen, super keren! Ga sia-sia bunda suka nyerewetin Azzam untuk pergi sholat. Ga sia-sia ayah rajin ingetin Azzam untuk membetulkan posisi tubuh saat sholat. Semoga ini menjadi awal yang baik, untuk Azzam dan adik-adiknya, agar mereka makin sholih dan sholihah, amiin.


Setelah ini, dijamin, bunda akan makin cerewet soal sholatmu, Zam! J

Monday, 9 May 2016

Tita si Ratu Unik

Tita ompong
Setiap anak, adalak unik. Tidak bisa disamakan dan diperbandingkan. Demikianlah potret bagaimana kami mengasuh tiga anak yang ketiga-tiganya punya sisi unik masing-masing. Jika sebelumnya sempat punya pikiran, makin banyak anak, maka pengasuhannya akan lebih mudah, karena sudah lebih berpengalaman dari proses anak-anak sebelumnya. Ternyata tidak, sodara-sodara! Buktinya, Tita! Kami tidak bisa membuat ‘template’ pola asuh kakak-kakaknya untuk diterapkan pada Tita. Apa yang dulu berhasil untuk mengatasi masalah si pertama Azzam, kini tidak bisa digunakan lagi pada Tita. Metode yang dulu pas untuk si kedua Sasha, tidak lagi mulus diterapkan pada Tita. Tita benar-benar unik. Dan menarik! *sambil geleng-geleng kepala dan elus-elus dada.

Tuesday, 15 March 2016

Market Day Seru

Beruntungnya anak-anak jaman sekarang, berkesempatan memperoleh materi pembelajaran mengenai kewirausahaan di usia yang masih sangat belia. Market day pertama Sasha, dia rasakan bulan lalu, dimana Sasha begitu semangat membawa paket alat tulis -yang sudah dikemas cantik oleh bunda tentunya- untuk didisplay bersama-sama temannya di sekolah. Karena masih TK, maka alat tukarnya bukan uang sungguhan. Melainkan uang mainan buatan bunda guru di sekolah. Bagi anak-anak seusia Sasha, membawa komoditas untuk ditukarkan dengan benda lain yang ia jumpai di “pasar” (baca: halaman sekolah) merupakan pengalaman yang menyenangkan sekaligus sarat ilmu dan wawasan.

Tuesday, 8 March 2016

Menggali Azzam

Bunda : “Gimana, Mas, sekolahnya hari ini?”
Azzam: “Baik, alhamdulillaah, lancar” dengan ekspresi dan nada super datar.
Aiih, bunda mulai bosan dengan jawaban standar dan super flat Azzam. Padahal jika pertanyaan yang sama bunda ajukan untuk Sasha, maka jawabannya akan sangat panjang dan berapi-api. “Tadi to bun, bla..bla…bla… trus to..bla..bla..bla. Nha jadinya bla…bla..bla…” dan baru berhenti kalau sudah distop “Gantian dik Tita yang crita ya, Kak”. Jadi, untuk urusan info sekolah Azzam, bunda jadi tak begitu banyak berharap akan mendapat banyak cerita dari Azzam sendiri. Beruntung sekarang sudah jamannya sosial media, guru dan wali murid sudah bisa ngumpul di group WA untuk saling bertukar info. Tapi tetep saja bunda penasaran, bagaimana supaya bisa mengorek banyak cerita tentang apa yang sudah dilaluinya di sekolah.

Baik, bunda siap berinstropeksi diri. Pasti ada yang tidak beres dengan bunda, sehingga belum bisa menggali info dari Azzam. Tampaknya, jawaban standar Azzam dipicu oleh pertanyaan bunda yang juga sangat standar. Mmm…kayanya sih begitu ya. Selama ini, tiap bunda melangkah masuk rumah sepulang kerja, saat tiga malaikat kecil itu berhamburan keluar menyambut kedatangan bunda  seraya berteriak menjawab salam bunda,  Bunda langsung melempar pertanyaan “Gimana nak, seru sekolahnya hari ini?”. Biasanya sih yang pertama kena jatah pertanyaan si sulung Azzam, yang lalu pasti akan dijawab dengan tiga kata andalannya “baik, Alhamdulillah, seru/lancar”. Barang kali, karena hal tersebut sudah menjadi hal yang sangat rutin bunda tanyakan tiap bunda pulang kantor, maka sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik bagi Azzam untuk dijawab. Well, meskipun kesimpulan ini tidak berlaku untuk adik-adiknya ya, yang tetep antusias berebut bercerita melaporkan kegiatan hariannya. Yah, lain anak lain pula penanganannya pastinya.

That’s why, sore kemarin bunda mulai bermanuver. Karna hari itu adalah hari pertama UTS, so bunda harus bisa mendapat cerita lengkap dari Azzam, eh..secuil deh, ga lengkap juga ga papa. Sepertinya Azzam tidak nyaman dengan sebuah ‘pertanyaan’, makanya ia enggan menjawab. Jadi, begitu bunda datang, salim, cipika cipiki, peluk-pelukan, bunda tidak langsung menyerangnya dengan pertanyaan. Bunda biarkan dia berlari kembali ke kertas gambarnya. Sementara bunda masih terus dibuat riweh dengan reportase Sasha dan Tita sambil bebersih diri di kamar.

Usai sholat magrib lanjut tilawah, seperti biasa masing-masing sudah siap sedia dengan agenda pilihan masing-masing. Sasha yang sedang senang-senangnya membaca, sudah memilih buku Barney untuk dia baca. Tita, follower sejati kak Sasha juga sudah siap dengan tas punggung merahnya yang berisi penuh piranti belajarnya, siap nongkrongin kakaknya, menunggu dan mengamati sang kakak untuk selanjutnya ia tiru aksinya. Azzam, masih perlu sedikit dipancing dulu. Bunda minta dia menyiapkan buku materi ujian esok hari. Sambil menemani Azzam menyiapkan buku, bunda mulai melancarkan aksi korek-mengorek. “Wah, tadi gampang mesti ya mas, soal ujiannya. Iya lah, kan kemarin persiapan kita mateng banget ya”. Eh..benar saja, Azzam langsung merespon kalimat bunda itu dengan serentetan kalimat informatif mengenai ujiannnya “iya bun, gampang banget. Soalnya tu gini bun..bla..bla..bla… pas sebelum masuk kelas, dikasih pertanyaan dulu lho bun, bla..bla..bla..”. Kemudian mulailah terjadi percakapan umpan balik yang seru tentang kisah ujian hari ini, antara Azzam dan Bundanya.


Yah,intinya adalah, bunda harus lebih banyak bersabar. Beri Azzam waktu. Menunggu, sampai waktunya tepat bagi Azzam untuk merasa nyaman memulai cerita. Dan yang lebih penting adalah, bunda harus lebih kreatif dalam menyusun kalimat ‘pancingan’ yang ga itu-itu aja, untuk bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya dari si kalem Azzam.

Monday, 22 February 2016

Go Get Your Gold, Azzam! (Catatan OSK 2016)

Babak penyisihan Olimpiade Sains Kuark (OSK) pertama Azzam berhasil dilalui dengan baik pada Sabtu, 20/02 kemarin.  Hiruk pikuk persiapan yang kami susun menjelang babak penyisihan kemarin menjadi momentum kebersamaan saya dan Azzam bak duo maut yang super kompak tak terkalahkan, aaiiih. Saya selalu amaze sekaligus terharu melihat semangat Azzam melahap setiap materi yang kebetulan memang sangat asyik dikonsumsi anak-anak ini, sehingga sama sekali jauh dari kesan drilling, atau pembelajaran intensif layaknya persiapan menjelang pertarungan olimpiade. Azzam sudah menggemari majalah Kuark ini jauh sebelum dia masuk SD. Perkenalan pertama Azzam pada Kuark terjadi karna saya rajin membawakan pulang majalah Kuark yang saya pinjam dari perpustakaan kantor. Saya sendiri, sejak pertama mengenal Kuark, juga langsung jatuh hati. Dimata saya, penggagas majalah ini pastilah orang yang sangat jenius, brilian, dan luar biasa. Bagaimana tidak, ilmu sains yang kadung dikenal sebagai pelajaran yang sulit dan mengerikan bisa tersaji dalam sebuah bacaan komik yang seru, menarik dan menyenangkan, jauuh dari kesan sulit dan rumit.

Maka ketika saya menerima edaran pemberitahuan dari  SD II Al Abidin, tentang penawaran keikutsertaan OSK 2016, akhir Januari lalu, sayapun menyambutnya dengan sangat antusias. “Le, ada Olimpiade Kuark, kamu mau ikut ga, Le?” tanya saya spontan sesaat membaca edaran tersebut, dan langsung disahut Azzam “Mau! Mau!, Mau, Bun!”. Meskipun secara matematis, peluang Azzam menang atau minimal lanjut ke babak semifinal belumlah besar, karena OSK yang terbagi menjadi 3 level ini (level 1 untuk kelas 1 dan 2, level 2 untuk kelas 3 dan 4, sedang level 3 untuk kelas 5 dan 6), mengharuskan Azzam bertanding head to head dengan kakak-kakak dari kelas 2. Namun, tak ada salahnya dicoba, untuk melatih kesiapan psikis Azzam menghadapi kompetisi sekaligus untuk menambah wawasannya, kami akhirnya mengisi form pendaftaran. Singkat kata singkat cerita, Azzam berhasil terdaftar sebagai peserta OSK 2016.

Hanya tersisa waktu selama dua minggu saja bagi kami untuk melakukan persiapan, sejak kami menerima kartu peserta OSK 2016 sebagai bukti yang sah akan keikutsertaan Azzam. Sebagai materi persiapan sudah saya siapkan 6 jilid majalah Kuark terbaru yang harus Azzam habiskan dalam dua minggu itu. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Azzam untuk menentukan jilid mana dulu yang ingin ia baca setiap malamnya. Azzam sendiri pula yang mengatur, berapa paket soal yang ingin dia kerjakan setelah membaca materi komiknya. Selebihnya saya hanya menemani dan membatu membacakan jika dia sedang malas membaca. #padahal lebih banyak malasnya,hehe.

Alhamdulillah masa persiapan dapat kami lalui dengan baik. Saya selaku mentor, insyaalloh cukup pede dengan bekal yang sudah Azzam siapkan. Hanya saja, tatkala melihat para pesaing Azzam pada saat  berada di arena tempur di SD Kristen Manahan, mendadak rasa pede menghilang, berubah jadi nge-per. Azzam terlihat mungil, berada ditengah-tengah barisan anak-anak level 1 yang kebanyakan sudah duduk di kelas 2. Membayangkan persiapan anak-anak kelas 2 yang pasti jauh lebih matang, karena pengalaman yang sudah mereka punyai sebelumnya, membuat saya grogi total. Untungnya Azzam tetap super cool, tak terpengaruh dengan riuhnya anak-anak yang memadati area lomba tersebut.

Acara resmi dibuka tepat pukul 08.00, serentak di seluruh lokasi penyelenggaraan OSK. Ajang lomba yang diikuti oleh 90ribuan anak dari seluruh penjuru Indonesia ini merupakan ajang penyelenggaraan rutin tahunan dengan skema lomba terbagi ke dalam tiga babak. Babak penyisihan dan semi final yang di gelar di masing-masing kota, dan babak final yang dilangsungkan di Jakarta. Untuk Azzam, saya tidak pasang target muluk-muluk, mengingat ini adalah pengalaman perdana Azzam dengan persiapan yang singkat dan pesaing yang jauh lebih matang dan siap. Berhasil lolos ke babak berikutnya saja sudah merupakan prestasi yang wow banget untuk Azzam. Terlebih jika Alloh mengizinkan Azzam untuk bisa sampai ke Jakarta menjadi finalis, wah..sudah langsung koprol nanti bundanya.

15 menit menjelang batas waktu akhir mengerjakan soal, Azzam sudah keluar ruangan. Sedikit di luar dugaan memang. Tadinya kami, ayah bundanya mengira, dia akan jadi one last man standing lagi, seperti biasaaa..hehe, menjadi yang paling akhir yang keluar ruangan. Dari ke 50 soal yang disajikan, Azzam mengaku mampu mengerjakan seluruhnya. Tinggal berdoa dan berserah diri sekarang sambil menunggu pengumuman peserta yang lolos ke babak semi final nanti di tanggal 21 Maret 2016. Bismillah.

Saturday, 23 January 2016

Azzam dan Matematika (part 1)

Ketertarikan Azzam pada angka dan permainan-permainan yang berbau logika memang sudah dapat kami deteksi sejak dini. Saya ingat betul, betapa dia betah duduk manis untuk beberapa saat lamanya ketika disajikan setumpuk kepingan lego, puzzle, balok-balok dan kartu-kartu bergambar. Lalu saat TK A, dia sudah mulai menyukai angka, sudah paham konsep penjumlahan dan begitu antusias jika menjumpai lembar teka-teki silang di buku. Meskipun ujung-ujungnya nangis juga karena dia tidak mampu mnyelesaikan teka-tekinya.

Maka ketika saya mendapati surat pemberitahuan dari Ustadz Azzam di sekolah, yang menerangkan bahwa Azzam diikutsertakan ke dalam ajang seleksi kelas khusus Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) dari Klinik Pendidikan Mipa cabang Solo, jelas saya langsung berbunga-bunga. Yang membuat saya senang adalah, rupanya pengamatan saya terhadap Azzam sinkron dengan apa yang dilihat oleh pihak sekolah, utamanya oleh Ustadz yang membimbingnya sehari-hari di kelas. Hal ini sangat melegakan, karena paling tidak ini akan memudahkan kami, orang tuanya, dalam membantu dan memfasilitasi kebutuhan belajar Azzam sesuai dengan minat dan bakatnya.