Wednesday, 4 July 2012

Hukuman untuk Anak, Perlukah?


pic source: dudeiwantthat.com
Saya baru belajar. Belajar untuk menerapkan pola asuh yang paling ideal untuk anak. Dan saya mengakui bahwa ini bukanlah hal yang mudah untuk dipelajari. Tidak ada sekolah, kursus atau trainer yang bisa memberikan teori dan pelatihan praktis untuk selanjutnya diterapkan pada anak. Memang saya babat habis semua artikel dan informasi dari berbagai media tentang bagaimana mengasuh dan mendidik anak dari usia dini, namun selebihnya lebih kepada upaya trial and error ketika harus menghadapi berbagai kasus yang unik pada anak di keseharian mereka. 


Meskipun lebih bersifat trial and error, saya tetap meyakini bahwa kekerasan dengan alasan apapun dalam mendidik anak, tidak akan membuahkan hasil yang baik. Semakin sering dan keras teriakan kita pada anak, anak malah akan terbiasa dengan hal tersebut, dan akhirnya hanya akan menjadi angin lalu baginya. Semakin sering kita memukulnya, maka anak akan belajar hal yang sama dan menerapkannya saat sedang bermain dengan temannya. Jadi, memukul dan meneriaki anak bukanlah solusi.

Namun bukan berarti anak tidak perlu untuk mendapatkan hukuman atas kesalahan yang ia buat. Hukuman tetap perlu, untuk memperkenalkan konsep sebab akibat dan rasa tanggung jawab. Jelas bukan hukuman fisik yang saya maksud. Saya lebih memilih untuk menerapkan hukuman strap di pojok renung. Saya siapkan satu sudut di ruang tengah kami, yang sengaja dijauhkan dari mainan dan hal menarik lain, dan saya perkenalkan pada anak sebagai ‘pojok renung’, tempat dimana ia dapat merenungkan segala kesalahan yang telah ia perbuat. Sesuai teori, saya tidak memilih untuk mengurung anak di kamar dan member waktu ia untuk merenung. Karena jika hal ini diterapkan untuk anak dengan usia yang masih sangat dini, bukannya memberikan waktu untuk berpikir, melainkan hanya akan membuat anak trauma, takut dikurung. Jika anak mulai melakukan pelanggaran, tentu saja pelanggaran dengan kategori berat, saya akan membawanya di sudut itu, memintanya untuk duduk selama 5 menit, dan membuatnya merenungkan kesalahannya.

Dengan menerapkan teknik ini, saya berharap anak dapat belajar membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak. Belajar untuk mengetahui sebab akibat, belajar untuk menerima konsekuensi dari kesalahan yang telah dilakukan dan belajar tentang konsep kedisiplinan. Yang terpenting adalah semua hal tersebut dapat ia pelajari tanpa ada rasa takut, terancam dan tidak akan meninggalkan trauma yang membekas pada anak.

Memang tidak mudah memperkenalkan strap sebagai sebuah hukuman atas kesalahan yang dilakukan anak. Namun dengan konsistensi, tentu teknik ini akan lebih efektif, dan akan membuahkan hasil sesuai harapan. Dan yang tak kalah penting lagi adalah mengimbanginya dengan memberikan pujian atas setiap hal yang berhasil ia capai, sekecil apapun itu.

No comments:

Post a Comment